Kecerdasan Emosional dan Realita Dunia
Kerja
Dalam bukunya yang terkenal itu, Daniel Goleman menyebutkan
disamping Kecerdasan Intelektual (IQ) ada kecerdasan lain yang membantu
seseorang sukses yakni Kecerdasan Emosional (EQ). Bahkan secara khusus dikatakan
bahwa kecerdasan emosional lebih berperan dalam kesuksesan dibandingkan
kecerdasan intelektual. Klaim ini memang terkesan agak dibesarkan meskipun ada
beberapa penelitian yang menunjukkan kebenaran ke arah sana. Sebuah studi
bahkan menyebutkan IQ hanya berperan 4%-25% terhadap kesuksesan dalam
pekerjaan. Sisanya ditentukan oleh EQ atau faktor-faktor lain di luar IQ tadi.
Jika kita melihat dunia kerja, maka kita bisa menyaksikan
bahwa seseorang tidak cukup hanya pintar di bidangnya. Dunia pekerjaan penuh
dengan interaksi sosial di mana orang harus cakap dalam menangani diri sendiri
maupun orang lain. Orang yang cerdas secara intelektual di bidangnya akan mampu
bekerja dengan baik. Namun jika ingin melejit lebih jauh dia membutuhkan
dukungan rekan kerja, bawahan maupun atasannya. Di sinilah kecerdasan emosional
membantu seseorang untuk mencapai keberhasilan yang lebih jauh.
Berdasarkan pengalaman saya sendiri dalam proses rekrutmen
karyawan, seseorang dengan nilai IPK yang tinggi sekalipun dan datang dari
Universitas favorit tidak selalu menjadi pilihan yang terbaik untuk direkrut.
Ada kalanya orang yang pintar secara intelektual kurang memiliki kematangan
secara sosial. Orang seperti ini bisa jadi sangat cerdas, memiliki kemampuan
analisa yang kuat, serta kecepatan belajar yang tinggi. Namun jika harus
bekerja sama dengan orang lain dia kesulitan. Atau jika dia harus memimpin maka
akan cenderung memaksakan pendapatnya serta jika harus menjadi bawahan punya
kecenderungan sulit diatur.
Orang seperti ini mungkin akan melejit jika bekerja pada
bidang yang menuntut keahlian tinggi tanpa banyak ketergantungan dengan orang
lain. Namun kemungkinan besar dia akan sulit bertahan pada organisasi yang
membutuhkan kerja sama, saling mendukung dan menjadi sebuah “super team”,
bukan “super man”.
Tentunya tidak semua orang yang cerdas secara intelektual
seperti itu. Dan bukan berarti kecerdasan intelektual tidak penting. Dalam
dunia kerja kecerdasan intelektual menjadi sebuah prasyarat awal yang
menentukan level kemampuan minimal tertentu yang dibutuhkan. Sebagai contoh
beberapa perusahaan mempersyaratkan IPK mahasiswa minimal 3.0 atau 2.75 sebagai
syarat awal pendaftaran. Hal ini kurang lebih memberikan indikasi bahwa
setidaknya kandidat tersebut telah belajar dengan baik di masa kuliahnya dulu.
Setelah syarat minimal tersebut terpenuhi, selanjutnya
kecerdasan emosional akan lebih berperan dan dilihat lebih jauh dalam proses
seleksi. Apakah dia punya pengalaman yang cukup dalam berorganisasi? Apakah
calon tersebut pernah memimpin atau dipimpin? Apa yang dia lakukan ketika
menghadapi situasi sulit? Bagaimana dia mengelola motivasi dan semangat ketika
dalam kondisi tertekan? Dan banyak hal lagi yang akan diuji.
Dalam dunia kerja yang semakin kompetitif, kemampuan
seseorang menangani beban kerja, stres, interaksi sosial, pengendalian diri,
menjadi kunci penting dalam keberhasilan. Seseorang yang sukses dalam pekerjaan
biasanya adalah orang yang mampu mengelola dirinya sendiri, memotivasi diri
sendiri dan orang lain, dan secara sosial memiliki kemampuan dalam berinteraksi
secara positif dan saling membangun satu sama lain. Dengan cara ini orang
tersebut akan mampu berprestasi baik sebagai seorang individu maupun tim.
Beberapa Karakteristik Orang Yang
Sukses dalam Pekerjaan
Jika kita melihat orang yang sukses dalam pekerjaan, ada
beberapa karakteristik umum yang mirip satu sama lain:
- Bekerja dengan sepenuh hati dan riang
- Memiliki prestasi dalam pekerjaan sebagai individu dan tim
- Mampu mengelola konflik
- Mampu menghadapi dan menjalankan perubahan
- Memiliki empati terhadap atasan, bawahan dan rekan kerja
- Mampu membaca dan mengenali emosi diri sendiri maupun orang lain serta mengambil tindakan yang tepat dalam menanganinya
Jika kita perhatikan, maka hampir semua daftar di atas akan
dimiliki oleh orang yang cerdas secara emosional. Khusus untuk item nomor dua
diperlukan kecerdasan intelektual yaitu bagaimana seseorang bisa menjadi ahli
di bidangnya. Memiliki pengetahuan dan skill yang mumpuni agar bisa berprestasi
secara individu. Selanjutnya kecerdasan emosional akan membantunya berprestasi
pula sebagai tim bersama rekan kerja, bawahan maupun atasannya.
Secara sederhana, ada dua kelompok keahlian yang dimiliki
orang yang cerdas secara emosional:
1. Kemampuan Pribadi
o
Pengenalan diri (Self Awareness), memahami emosi,
batasan yang dapat dicapai, kemampuan, kekuatan dan kelemahan.
o
Manajemen diri (Self Management), mampu mengendalikan
diri menghadapi berbagai situasi
o
Orientasi Tujuan (Goal Orientation), mengetahui apa yang
menjadi tujuannya dan menyusun langkah-langkah yang diperlukan untuk
mencapainya.
2. Kemampuan Sosial
o
Empati: mengenali perasaan dan emosi orang lain serta mampu
menempatkan diri dalam posisi tersebut.
o
Keahlian sosial (Social skills): mampu berinteraksi
dengan orang lain, bekerjasama, mengelola konflik serta bersikap dengan tepat
terhadap berbagai situasi perasaan dan emosi orang lain.
Melatih Kecerdasan Emosional
Sejak kecil kita telah memiliki emosi dan berinteraksi
dengan emosi tersebut. Kebiasaan kita dalam menanganinya akan terus terbawa dan
menjadi karakter seseorang ketika dewasa. Dengan demikian, alangkah
berbahagianya seorang anak yang memiliki orangtua yang peka dan pelatih emosi
yang baik. Anak seperti ini akan berlatih menangani dirinya sejak masa kecil.
Untuk topik ini insya Allah akan saya posting dalam kesempatan yang akan
datang.
Bagaimana jika ketika dewasa kita kurang memiliki kematangan
secara emosional? Jawabannya adalah kecerdasan tersebut dapat dilatih. Cara
paling awal adalah dengan mengenali emosi diri Anda ketika terjadi. Kenali apa
saja yang berkecamuk dalam dada Anda dan suara-suara yang memerintahkan Anda
untuk bertindak. Tahapan berikutnya adalah melakukan kontrol diri terhadap
berbagai bentuk emosi yang ada. Bagaimana Anda mengendalikan diri ketika marah,
tidak terpuruk ketika merasa kecewa, dapat bangkit dari kesedihan, mampu
memotivasi diri dan bangkit ketika tertekan, mengatur diri dari kemalasan,
menetapkan target yang menantang namun wajar, serta bisa menerima keberhasilan
maupun kegagalan dengan lapang dada.
Jika hal tersebut sudah Anda kuasai, selanjutnya adalah
melatih kematangan sosial. Bagaimana Anda berempati – merasakan apa yang
dirasakan orang lain – sehingga bisa memberi respon yang tepat terhadap
sinyal-sinyal emosi yang ditampilkan orang lain. Kematangan ini akan mudah
dikembangkan jika Anda aktif terlibat dalam organisasi, bekerjasama dengan
orang lain dan memiliki interaksi sosial yang intens. Latihlah kemampuan Anda
dalam memimpin dan dipimpin, memotivasi orang lain, serta mengatasi dan
mengelola konflik.
Bagi saya pribadi, memahami emosi sangat membantu dalam
mengenali diri dalam tahap awal. Selanjutnya adalah mengenali dan mengendalikan
oknum-oknum yang saling berperang dalam diri: berbagai keinginan, kesombongan,
iri hati, dengki, kebencian, amarah dan sifat-sifat lainnya. Cerdas secara
emosional akan membantu Anda pada tahap awal untuk mengenali diri dengan lebih
baik, sekaligus bersikap positif dan melatih kematangan menghadapi kehidupan,
apapun yang terjadi: susah atau senang, sukses atau gagal, mudah atau sulit.
Selamat belajar, semoga Allah membantu saya dan Anda menjadi
orang yang lebih baik lagi di masa mendatang.
Anda punya pandangan lain tentang hal ini? Silakan sampaikan
pendapat Anda!!
sumber : Daniel Goleman & Achmad Abu Bakar.Spd
0 comments :
Posting Komentar